Sabtu, 14 Juli 2012

I Love U too



“Aku harus bisa !” kataku tegas dengan nada yang serius menyemangati diri.
“Besok aku akan mengatakannya” kataku lagi.
Mata hijau safirku menatap lurus ke arah foto kecil yang berada di atas meja tepat di tempatku merebahkan badan yang terasa penat karena hampir semua waktuku sepulang sekolah tadi ku habiskan dengan bermain bola bersama Karin, seorang gadis SMP yang belum lama ini ku kenal.
Ku pandangi dalam-dalam foto itu, foto seorang gadis manis bermata hazel, Momo Hinamori namanya. Gadis yang mampu membuat wajah dinginku bisa tersenyum, seorang gadis yang dapat menarik perhatianku, gadis yang selalu tau bagaimana perasaanku seperti apapun aku menyembunyikannya dibalik mataku yang hampir tak ada ekspresi itu.
Ku alihkan pandanganku ke atas berusaha mengingat-ingat semua hal tentangnya. Ku angkat sedikit kepalaku dan merebahkannya di atas kedua tanganku, mengulangi setiap kebiasaanku sebelum tertidur. Ku tarik nafasku dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan senada dengan mataku yang mulai tertutup karna lelahnya.
-----“-----“-----*
“Shiro-chan !!” panggil seseorang menghentikan langkahku.
Aku segera berbalik mencari-cari asal suara itu, dan mataku tertuju pada seseorang yang sudah tak asing lagi bagiku. Mata secoklat hazel dan rambut panjang yang selalu diikatnya itu, juga senyuman yang tak terlepas dari bibir mungilnya.
“Kenapa?” tanyaku seketika saat gadis itu berhasil menghampiriku. Dia belum menjawab pertanyaanku, dia malah asyik memperhatikan mata hijau safirku. Itulah yang selalu diperhatikannya saat berbicara denganku.
“Kamu kurang tidur ya?” tanyanya tanpa menghiraukan pertanyaanku tadi. Aku tak menjawabnya, aku hanya mengalihkan pandanganku ke lain berusaha menyembunyikan kelelahan yang membekas diwajahku.
“Rambutmu saja sampai berantakan...” sambungnya seraya tersenyum. Tangannya yang lembut mencoba merapikan rambut perakku yang tidak karuan. Aku semakin memalingkan wajahku, mencoba menutupi pipiku yang mulai sedikit memerah.
“Shiro-chan?” tanyanya bingung dengan sikapku.
“Kenapa?” tanyaku lagi, kali ini aku mulai berani menatapnya.
“Maaf, hari ini kita tidak bisa pulang sama-sama lagi...” “Ada rapat OSIS mungkin besok baru bisa... “ sambungnya lagi dengan nada penuh penyesalan.
Jujur, saat mendengarkan itu aku merasa kesal. Tapi, aku tak kuasa mengeluarkan rasa kesalku ketika melihat tatapan permohonan darinya.
“Momo, ...” ku beranikan intuk mengatakannya. “Sebenarnya ada yang ingin ...” sebelum sempatku menyelesaikan kata-kata ku, ada seseorang yang memanggil Hinamori dari belakangku.
“Hinamori !! ayo cepat, 5 menit lagi kita mulai...” panggilnya dai kejauhan lorong sekolah.
“Yosh, senpai !” jawab Hinamori seketika. Dia memang selalu memanggil laki-laki itu dengan sebutan “senpai” karena perbedaan kelas 1 tahun diatas Hinamori, seperti perbedaan usiaku dengan Momo. Hanya saja... disini aku lah yang lebih muda.
“Maaf, ya..” kata-kata terakhir yang diucapkannya saat mengakhiri percakapan kami.
Aku hanya diam, bisu, dengan kepala sedikit tertunduk karena kecewa. Ku kepalkan tanganku kuat-kuat seakan ingin menghantam benda yang sangat keras.
Lagi-lagi Aizen, Aizen, dan Aizen !! gumamku dalam hati. Kenapa pria it selalu menyita perhatian Momo? Dan kenapa pria berkacamata itu dapat membuat Momo sangat mengaguminya? Berbagai pertanyaan ku lontarkan dalam hatiku.
-----“-----“-----*
“Ada apa?” tanya seorang gadis berumur 12-an itu dengan bingung. Aku tak menjawab, aku terus saja membaringkan badanku di bawah pohon rindang dengan membantalkan kepala ke atas tanganku, pandanganku menatap lurus ke langit yang terlindung lebatnya daun di pohon itu.
Karin, nama gadis itu. Dia mengikutiku berbaring dibawah pohon itu, tepat di sampingku.
“Pasti karena teman kecilmu itu...” katanya sedikit kesal.
Segera ku perhatikan gadis di sampingku itu dengan tatapan dingin, tanda tidak setuju dengan nada bicaranya. Dia pun menatapku juga, tapi dengan tatapan kecewa.
“Hitsu... aku suka sama kamu” kata gadis itu memohon.
Aku memalingkan wajahku dan berhenti berbaring di bawah pohon. Aku berdiri membelakangi gadis SMP itu, dan dia menghampiriku.
“Maaf, aku tak bisa...” kataku datar dengan tatapan dingin tanpa menoleh sedikitpun ke belakangku, tempat gadis itu memohon. Ku langkahkan kakiku menjauh dari tempat itu, aku tak ingin melihat tangisan kecewa darinya. Yang ada dipikiranku saat ini hanyalah Momo, orang yang paling ku sayangi sejak kecil dan sekarang dia adalah orang yang paling ku cintai.
-----“-----“-----*
Bel pulang sekolah berbuyi, tapi aku masih saja menunggu seseorang kelua dari pintu sekolah yang sudah sepi itu. Di bangku teras sekolah sudah hampir 3 jam aku duduk. Sebenarnya, Momo sudah bilang kalau lagi-lagi dia tidak bisa pulang bersamaku. Tapi, tekadku sudah bulat, aku harus menunggunya disini, hari ini juga. Apapun yang terjadi, aku harus mengatakannya, meski harus menunggu lama sampai rapat OSIS selesai.
Tak lama kemudian satu per satu orang yang berada di dalam sekolah itu keluar. Hingga giliran terakhir, akhirnya Momo keluar juga, tapi bersama ketua Aizen di sampingnya.
“Shiro-chan?” katanya melihatku yang masih setia menunggunya. Aku segera berdiri menghampirinya. Ku pandangi dengan dingin laki-laki yang bersamanya, tanpa sepengetahuan gadis itu.
“Lebih baik aku duluan... “ kata Aizen mengerti.
Momo yang merasa tidak enak, segera menghampiri laki-laki yang sudah setengah jalan meninggalkannya.
“Maaf... “ kata Hinamori merasa bersalah.
Laki-laki itu membalasnya dengan senyuman kecil yang terlihat dipaksakan. Bodoh ! sentakku dalam hati. Kemudian, dia meninggalkan kami berdua.
Tiba-tiba hujan deras yang tak disangka-sangka mengguyur lebat. Seketika itu juga, ku tarik tangan Momo yang mulai dingin karena udara senja, mengajaknya kembali berteduh di teras sekolah yang sepi.
“Shiro-chan... “ panggilnya lembut. Tanpa menghiraukan panggilannya, ku pandangi terus mata hazelnya yang indah itu tanpa kedip.
“A... ada apa?” tanyanya sedikit terbata-bata.
Aku melihat kedua pipinya mulai memerah saat mengatakan kata-kata itu. Seperti yang pernah ku lakukan sebelumnya, dia pun melakukannya juga. Dia mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Tapi, berbeda dengannya, aku malah memegang kedua tangannya yang sudah terasa dingin, sedingin es.
“Momo... “ panggilku pelan. Aku merasakan semakin lama badannya semakin bergetaran.
“A.. apa?” tanyanya semakin menggigil, wajahnya sekarang sangat merah, dengan bibir yang entah kenapa justru semakin memucat.
Melihat keadaan yang seperti itu, aku segera memeluknya, menghentikan getaran tubuhnya, menghangatkan tubuhnya yang mulai lemas karna dingin.
“Shi.. Shiro.. chan..” katanya terputus-putus.
“A..ku.. mencintaimu...”
Sungguh kata-kata yang tidak ku kira akan keluar dari mulut mungilnya. Aku sangat senang saat itu, hanya saja aku tidak dapat mengekspresikannya dengan jelas.
Aku melepaskan pelukanku, kali ini aku melihat sebuah perasaan lega terlukis di wajahnya, dan getaran itu semakin menghilang.
“Ma... maafkan aku... “ katanya sedikit tertunduk malu.
Ku pandang terus wajah manis Momo dengan mata sehijau safirku yang terus melekat pada gambaran nyata wajahnya... cup! .. tanpa ku sadari aku menciumnya, kini Momo mulai menatapku dengan penuh tanda tanya.
“Aku.. juga mencintaimu...” jelasku menjawab semua kebingungannya.

The End

0 komentar:

Posting Komentar