“Aku
harus bisa !” kataku tegas dengan nada yang serius menyemangati diri.
“Besok aku akan mengatakannya” kataku lagi.
Mata
hijau safirku menatap lurus ke arah foto kecil yang berada di atas meja tepat
di tempatku merebahkan badan yang terasa penat karena hampir semua waktuku
sepulang sekolah tadi ku habiskan dengan bermain bola bersama Karin, seorang
gadis SMP yang belum lama ini ku kenal.
Ku
pandangi dalam-dalam foto itu, foto seorang gadis manis bermata hazel, Momo
Hinamori namanya. Gadis yang mampu membuat wajah dinginku bisa tersenyum,
seorang gadis yang dapat menarik perhatianku, gadis yang selalu tau bagaimana
perasaanku seperti apapun aku menyembunyikannya dibalik mataku yang hampir tak
ada ekspresi itu.
Ku alihkan
pandanganku ke atas berusaha mengingat-ingat semua hal tentangnya. Ku angkat
sedikit kepalaku dan merebahkannya di atas kedua tanganku, mengulangi setiap
kebiasaanku sebelum tertidur. Ku tarik nafasku dalam-dalam kemudian
menghembuskannya perlahan senada dengan mataku yang mulai tertutup karna
lelahnya.
-----“-----“-----*
“Shiro-chan
!!” panggil seseorang menghentikan langkahku.
Aku
segera berbalik mencari-cari asal suara itu, dan mataku tertuju pada seseorang
yang sudah tak asing lagi bagiku. Mata secoklat hazel dan rambut panjang yang
selalu diikatnya itu, juga senyuman yang tak terlepas dari bibir mungilnya.
“Kenapa?”
tanyaku seketika saat gadis itu berhasil menghampiriku. Dia belum menjawab
pertanyaanku, dia malah asyik memperhatikan mata hijau safirku. Itulah yang
selalu diperhatikannya saat berbicara denganku.
“Kamu
kurang tidur ya?” tanyanya tanpa menghiraukan pertanyaanku tadi. Aku tak
menjawabnya, aku hanya mengalihkan pandanganku ke lain berusaha menyembunyikan
kelelahan yang membekas diwajahku.
“Rambutmu
saja sampai berantakan...” sambungnya seraya tersenyum. Tangannya yang lembut
mencoba merapikan rambut perakku yang tidak karuan. Aku semakin memalingkan
wajahku, mencoba menutupi pipiku yang mulai sedikit memerah.
“Shiro-chan?”
tanyanya bingung dengan sikapku.
“Kenapa?”
tanyaku lagi, kali ini aku mulai berani menatapnya.
“Maaf,
hari ini kita tidak bisa pulang sama-sama lagi...” “Ada rapat OSIS mungkin
besok baru bisa... “ sambungnya lagi dengan nada penuh penyesalan.
Jujur,
saat mendengarkan itu aku merasa kesal. Tapi, aku tak kuasa mengeluarkan rasa
kesalku ketika melihat tatapan permohonan darinya.
“Momo,
...” ku beranikan intuk mengatakannya. “Sebenarnya ada yang ingin ...” sebelum
sempatku menyelesaikan kata-kata ku, ada seseorang yang memanggil Hinamori dari
belakangku.
“Hinamori
!! ayo cepat, 5 menit lagi kita mulai...” panggilnya dai kejauhan lorong
sekolah.
“Yosh,
senpai !” jawab Hinamori seketika. Dia memang selalu memanggil laki-laki itu
dengan sebutan “senpai” karena perbedaan kelas 1 tahun diatas Hinamori, seperti
perbedaan usiaku dengan Momo. Hanya saja... disini aku lah yang lebih muda.
“Maaf,
ya..” kata-kata terakhir yang diucapkannya saat mengakhiri percakapan kami.
Aku hanya
diam, bisu, dengan kepala sedikit tertunduk karena kecewa. Ku kepalkan tanganku
kuat-kuat seakan ingin menghantam benda yang sangat keras.
Lagi-lagi
Aizen, Aizen, dan Aizen !! gumamku dalam hati. Kenapa pria it selalu menyita
perhatian Momo? Dan kenapa pria berkacamata itu dapat membuat Momo sangat mengaguminya?
Berbagai pertanyaan ku lontarkan dalam hatiku.
-----“-----“-----*
“Ada
apa?” tanya seorang gadis berumur 12-an itu dengan bingung. Aku tak menjawab,
aku terus saja membaringkan badanku di bawah pohon rindang dengan membantalkan
kepala ke atas tanganku, pandanganku menatap lurus ke langit yang terlindung
lebatnya daun di pohon itu.
Karin,
nama gadis itu. Dia mengikutiku berbaring dibawah pohon itu, tepat di
sampingku.
“Pasti
karena teman kecilmu itu...” katanya sedikit kesal.
Segera ku
perhatikan gadis di sampingku itu dengan tatapan dingin, tanda tidak setuju
dengan nada bicaranya. Dia pun menatapku juga, tapi dengan tatapan kecewa.
“Hitsu...
aku suka sama kamu” kata gadis itu memohon.
Aku
memalingkan wajahku dan berhenti berbaring di bawah pohon. Aku berdiri
membelakangi gadis SMP itu, dan dia menghampiriku.
“Maaf,
aku tak bisa...” kataku datar dengan tatapan dingin tanpa menoleh sedikitpun ke
belakangku, tempat gadis itu memohon. Ku langkahkan kakiku menjauh dari tempat
itu, aku tak ingin melihat tangisan kecewa darinya. Yang ada dipikiranku saat
ini hanyalah Momo, orang yang paling ku sayangi sejak kecil dan sekarang dia
adalah orang yang paling ku cintai.
-----“-----“-----*
Bel
pulang sekolah berbuyi, tapi aku masih saja menunggu seseorang kelua dari pintu
sekolah yang sudah sepi itu. Di bangku teras sekolah sudah hampir 3 jam aku
duduk. Sebenarnya, Momo sudah bilang kalau lagi-lagi dia tidak bisa pulang
bersamaku. Tapi, tekadku sudah bulat, aku harus menunggunya disini, hari ini
juga. Apapun yang terjadi, aku harus mengatakannya, meski harus menunggu lama
sampai rapat OSIS selesai.
Tak lama
kemudian satu per satu orang yang berada di dalam sekolah itu keluar. Hingga
giliran terakhir, akhirnya Momo keluar juga, tapi bersama ketua Aizen di sampingnya.
“Shiro-chan?”
katanya melihatku yang masih setia menunggunya. Aku segera berdiri
menghampirinya. Ku pandangi dengan dingin laki-laki yang bersamanya, tanpa
sepengetahuan gadis itu.
“Lebih
baik aku duluan... “ kata Aizen mengerti.
Momo yang
merasa tidak enak, segera menghampiri laki-laki yang sudah setengah jalan
meninggalkannya.
“Maaf...
“ kata Hinamori merasa bersalah.
Laki-laki
itu membalasnya dengan senyuman kecil yang terlihat dipaksakan. Bodoh !
sentakku dalam hati. Kemudian, dia meninggalkan kami berdua.
Tiba-tiba
hujan deras yang tak disangka-sangka mengguyur lebat. Seketika itu juga, ku
tarik tangan Momo yang mulai dingin karena udara senja, mengajaknya kembali
berteduh di teras sekolah yang sepi.
“Shiro-chan...
“ panggilnya lembut. Tanpa menghiraukan panggilannya, ku pandangi terus mata
hazelnya yang indah itu tanpa kedip.
“A... ada
apa?” tanyanya sedikit terbata-bata.
Aku
melihat kedua pipinya mulai memerah saat mengatakan kata-kata itu. Seperti yang
pernah ku lakukan sebelumnya, dia pun melakukannya juga. Dia mengalihkan
pandangannya ke tempat lain. Tapi, berbeda dengannya, aku malah memegang kedua
tangannya yang sudah terasa dingin, sedingin es.
“Momo...
“ panggilku pelan. Aku merasakan semakin lama badannya semakin bergetaran.
“A..
apa?” tanyanya semakin menggigil, wajahnya sekarang sangat merah, dengan bibir
yang entah kenapa justru semakin memucat.
Melihat
keadaan yang seperti itu, aku segera memeluknya, menghentikan getaran tubuhnya,
menghangatkan tubuhnya yang mulai lemas karna dingin.
“Shi..
Shiro.. chan..” katanya terputus-putus.
“A..ku..
mencintaimu...”
Sungguh
kata-kata yang tidak ku kira akan keluar dari mulut mungilnya. Aku sangat
senang saat itu, hanya saja aku tidak dapat mengekspresikannya dengan jelas.
Aku
melepaskan pelukanku, kali ini aku melihat sebuah perasaan lega terlukis di
wajahnya, dan getaran itu semakin menghilang.
“Ma...
maafkan aku... “ katanya sedikit tertunduk malu.
Ku
pandang terus wajah manis Momo dengan mata sehijau safirku yang terus melekat
pada gambaran nyata wajahnya... cup! .. tanpa ku sadari aku menciumnya, kini
Momo mulai menatapku dengan penuh tanda tanya.
“Aku..
juga mencintaimu...” jelasku menjawab semua kebingungannya.
The End