Kamis, 22 Maret 2012

NAZE??

Payung polos berwarna merah jambu itu telah basah seluruhnya, dan jalanan sepi yang sedari tadi ku telusuri semakin membuat suasana hatiku tidak karuan lagi, ditambah derasnya ribuan butir hujan yang menetes, membuat keadaanku tambah perih.
Langkah kakiku terhenti, mata hijau safirku tertuju pada jam tangan berwarna merah-hitam yang tergeletak di tepi  jalan itu, basah dan kotor, itulah keadaannya. Meskipun masih berbalut pita lucu diatasnya, namun, jam itu seakan tak diperlukan lagi oleh pemiliknya. Butiran air bening keluar dari kedua mataku, menetes bersamaan dengan jatuhnya hujan…
BUK !!... payung kecilku terjatuh seketika dari ganggaman tanganku yang melemah karena rasa getir dan dingin. Sekarang, aku yang duduk bersimpuh , diatas genangan air yang semakin meluas, dengan kepalaku yang semakin tertunduk kesal.
Pelan-pelan, kuambil  jam itu, mengusapnya, kemudian memegangnya seerat mungkin, meski ku tau tangan lemahku ini tak dapat menggenggamnya dalam keadaan seperti itu.Kubenamkan benda itu kedalam jaket coklat yang mulai basah diterpa hujan. Mencoba membuatku tenggelam dalam kesedihan yang semakin larut.
“Kenapa harus dia?” tanyaku getir, entah kepada siapa?. Disana hanya ada aku, jam tangan ini, juga hujan dan payung kecilku yang tak berdaya lagi.
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~~~~~
“Ha ha ha…..”
Kudengar suara mereka dari kejauhan, senang rasanya dapat melihat mereka tertawa lepas seperti itu. Aku memang senang sekali jika semua orang bahagia. Menurutku kesenangan mereka adalah kebahagian tersendiri bagiku.
Ku perhatikan dengan jelas wajah mereka satu persatu,  mata beningku tertuju pada salah seorang diantara mereka. Shinno, satu-satunya orang yang dapat menyita perhatianku, sesibuk apapun aku. Dan dia juga satu-satunya orang yang berbeda dari yang lain. Dari semua orang yang kukenal. Dimataku, dia begitu sempurna. Dia adalah anak laki-laki yang paling manis yang pernah kulihat, tapi bukan itu yang kubanggakan darinya. Kepribadiannya-lah yang membuat hati ‘batu’ku luluh. Baik, penyabar, lembut, penolong,dan kuat. Dia-lah Shinno Yamato yang kukenal selama ini.
“Hah?!” ku alihkan wajahku secepat mungkin, memperhatikan sekelilingku, sesuatu yang sebenarnya tak perlu ku perhatikan.
Ternyata, dia menyadarinya, menyadari keberadaanku sejak tadi. Dia terus menatapku dari kejauhan, mencoba menebak apa yang kulakukan. Keadaan ini membuatku semakin panik, berharap akan ada seseorang yang datang menolongku, membantu keluar dari kebingunganku.
“Hana!!” panggil seseorang seraya menepuk pundakku tiba-tiba.
“Kyukho?” jawabku sambil tersenyum dengan sahabatku ini.
Syukurlah…..,pikirku sejenak, akhirnya ada juga orang yang menyelamatkanku…
“Apa yang kamu lakukan?” tanyanya seketika, kemudian ikut duduk bersamaku, dibangku taman sekolah yang sejak tadi ku duduki.
“Tidak ada apa-apa…” jawabku tenang dan kembali tersenyum.
“Begitu ya? Bukannya…”
“Benar ! tidak ada apa-apa!!...” aku mulai panik dengan perkiraannya.
“Agh, sebaiknya kau terus terang saja, lagi pula, aku kan sudah tau…”
“Kalau kau tidak ingin perasaanmu terhenti sampai disini, lebih baik, kau katakan saja padanya… perpisahan sekolah kan,sebentar lagi …” lanjutnya kemudian.
“Tapi…” kekecewaan mulai nampak diwajahku.
“Sudahlah, aku yakin kamu pasti bisa !!” potongnya,menyemangatiku.
Kyukho pun pergi meninggalkanku sendirian., membuatku merenungkan perkataannya barusan.
Hmm, dia benar juga…, pikirku lagi
Ku tatap lagi halaman sekolah itu, halaman besar yang benar-benar rapi keadaannya. Halaman SMA tempatku bersekolah, SMA HOSHIZORA.
~~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~~
“Deng !!….”
Jari-jari tanganku sedang asyik memainkan sebuah piano klasik di ruangan itu. Sementara yang lain duduk manis ditempatnya masing-masing.
Prok, prok, prok !!
Semua orang menepukkan tangannya, ketika ku akhiri laguku dengan not yang terakhir. Sekarang  aku sudah dapat tersenyum lebar. Awalnya, kukira mereka tidak menyukai lagu yang kubawakan. Ternyata, tidak !, mereka malah memberikan ucapan selamat padaku.
“Syukurlah…” kataku sambil menghela nafas panjang.
Ku langkahkan kakiku yang berbalut sepatu berjenis slope-boot coklat gelap yang ku beli kemarin, khusus untuk acara ini.
Dengan mini-dress merah yang tertutup separuhnya oleh jaket kulit berwarna senada dengan sepatuku. Penampilanku saat itu sangat berbeda dari biasanya, yang mereka bilang… terkesan ‘tomboy’.
Aku kembali duduk di bangkuku semula. Disebuah ruangan besar yang khusus disewa untuk acara itu. Sesekali, ku rapikan rambut merahku yang terurai sebahu, begitu juga dengan poni manis yang menutupi keningku, ditambah dengan jepit rambut kecil diatas kedua telingaku.
“Kau hebat !!”
“Eh?” aku terkejut ketika menyadari sudah ada orang yang duduk disampingku.
Dan lebih terkejut lagi, ketika tau kalau ternyata orang itu…
“Shinno??” tanyaku bingung.
“Penampilanmu itu….. hebat sekali !!” katanya sambil tersenyum.
Aku hanya terdiam, bingung. Aku juga hampir tidak mendengar apa yang dia katakan. Selama ini, aku terlalu takut menatapnya, bahkan menyapanya, apalagi jika harus berbicara dengannya. Tapi, kali ini ku beranikan berbicara dengannya.
“Sankyu…” ucapku pelan.
Dia kembali tersenyum manis, dan pergi begitu saja.
Baka ! baka ! baka !!... hatiku berontak.
Bukankah itu kesempatanku untuk mengatakan itu padanya ?? Kenapa aku malah membiarkan dia pergi ?? Ada apa denganku ?? Sebegitu takutnya kah, aku ??
~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~*~~~~~~~~*~~~~~~~~~~*~~~~~~
Sekali lagi, kulihat jam tangan itu. Semua perasaan kucurahkan pada benda itu.
“Kenapa ?” tanyaku lagi,lagi dan lagi
Teringat olehku kejadian beberapa jam lalu…
***
“Shinno !” panggilku.
Dia menatapku, pertanyaan terlihat dimata hitamnya yang jernih
“Ini !” kuserahkan sebuah jam tangan dengan warna yang sesuai dengan kesukaannya, merah.
“Emm, ini…..?”
Belum selesai dia mengatakannya, dengan cepat ku raih tangannya dan meletakkan jam itu tepat diatasnya.
“Untukmu…” jawabku kemudian.
“Shinno … Ada yang ingin ku katakan padamu…”
Kata-kataku itu membuatnya semakin bingung.
“Sebenarnya… Sejak pertama aku mengenalmu, aku sudah menyukaimu…” jelasku tanpa ragu.
Padahal, aku tau kalau jawabannya pasti… ‘TIDAK’ !!.
Kulihat jelas, betapa kebingungan tampak diwajahnya.
“Hana…”
Sekali lagi, belum sempat dia mengatakannya, aku sudah memotong kata-katanya. Aku terlalu takut mendengar kekecewaan yang telak dalam hatiku.
“Aku tidak mau kau menjawabnya, aku cuma ingin menyampaikan ini padamu. Aku tidak mau terus menerus memendamnya seperti ini, dan ini mungkin adalah saat yang tepat, karena bisa jadi kita tak akan bertemu lagi…”
Aku segera pergi meninggalkannya. Sebenarnya, kaki ini terasa berat menjauh dari tempat itu. Ku hentikan langkahku sejenak, aku ingin melihatnya lagi untuk yang terakhir kali, tapi ku urungakn keinginanku. Ini sudah berakhir !, ku tatap langit yang mulai gelap karena  awannya yang tengah penuh dengan air. Ku langkahkan kembali kakiku lebih cepat, aku tidak mau lama-lama tenggelam dalam kesedihan, dan meneteskan air mata kehilangan.
Tiba-tiba, hujan pun jatuh, mengguyur sedikit demi sedikit, sementara anak laki-laki itu masih saja terdiam di tengah jalan sepi itu.
“Shinno !! Cepat !!! Apa yang kau lakukan disini ??”
“Eh?”
Anak laki-laki itu pun segera beranjak pergi, berlari bersama temannya itu. Sementara aku yang sejak tadi bersembunyi dibalik gedung pertokoan yang tak jauh dari tempatnya berdiri, masih  saja terdiam ditempatku.
Secepat Shinno berlalu, seketika  itu pula terasa perih dan kecewa dalam diriku. Bukan karena dia pergi, atau karena kutinggalkan dia sendiri.
~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
Sempat sesekali ku mengumpat, menyumpahi diri sendiri, seakan-akan semua masalah adalah salahku.
“BAKA YAROU !!!” teriakku keras.
“Tidak seharusnya aku menyukainya, aku tidak pantas dengannya !! Aku hanya  ‘gadis tomboy’ yang tidak pantas dicintai !!!” makiku keras seraya memukulkan kepalan tanganku ke tanah tergenang itu. Seakan tidak perduli lagi dengan rasa sakit yang kurasakan , aku terus memukulkannya, menambahkan luka yang semakin sobek.
Saat ingin memukulkan pukulan terakhirku, ada tangan menahannya, menahan ayunan kencang dari tanganku.
“Hentikan !!” tegurnya menyadarkanku.
“Shi, Shinno ?? Apa yang…” seketika itu juga aku terkejut dengan kehadiran orang itu.
Diambilnya selembar sapu tangan dari saku celananya. Segera dibalutkannya kain itu ketanganku yang penuh darah dan tersapu hujan lebat. Kemudian ditariknya tanganku, mencoba membuatku berdiri lagi.
“Kenapa… kau kesini ??” tanyaku sambil memalingkan wajahku darinya, terlihat jelas kekesalan dimataku yang membengkak.
“Ada milikku yang tertinggal…” jawabnya santai.
Matanya mengarah pada benda yang ku pegang. Tangannya meraih benda itu, dan memakainya setelah mengusapnya dengan bajunya yang setengah basah
“Jam itu, kupikir…”Kata-kataku terhenti, saat dia mulai memegang kedua bahuku.
“Arigatou…” ucapnya pelan. Mataku menatapnya dalam.
“Kenapa ? Dan… untuk apa kau…?”
Aku tak bisa melanjutkan perkataanku lagi, aku terlalu gugup berhadapan dengannya. Sementara dia, terus menatapku dalam dan lebih dalam lagi. Aku tak sanggup lagi melihatnya, semakin aku menatapnya, semakin dalam perasaanku padanya, dan semakin takut pula melepaskannya. Seketika itu juga, ku pejamkan mataku, karena ketakutan yang kuhadapi. Semakin lama ku menutup mataku, semakin tenang pula perasaanku.
Perasaan apa ini ? Kenapa tiba-tiba saja, aku merasa senyaman ini ? Bukankah, tadi ku merasa takut ? Kenapa aku merasa hangat ? Padahal aku tengah berada dalam hujan lebat??
Karena banyak pertanyaan yang perputar dikepalaku, perlahan ku buka mataku, betapa terkejutnya aku, seketika itu juga, ku galakkan mataku, berusaha melihat jelas bahwa ini bukan mimpi ! . Ternyata benar, apa yang kulihat. Sekarang, pria itu memelukku, berusaha membuatku merasa hangat.
Tak lama kemudian, dia melepaskan pelukkannya.
“Naze ?”tanyaku, dengan semua kebingunganku memohon jawaban padanya.
“Aishiteru mo…” jawabnya singkat, sambil memegang kedua tanganku.
Aku benar-benar tidak mengira dia akan mengatakan itu padaku. Saat itu, aku merasa sangat senang, bahkan tanpa sadar, air mataku kembali menetes. Tapi kali ini, berbeda dari sebelumnya.
“Shi, Shinno…”
Ku peluk erat laki-laki berambut biru itu, seerat mungkin, seakan tak mau melepasnya, begitu juga dengannya.
Shinno-chan, anata wa atashi no dai ichi to ushiro mottomo ai desu…
…Atashi no kokoro wo itte…
***THE END***

0 komentar:

Posting Komentar