Payung
polos berwarna merah jambu itu telah basah seluruhnya, dan jalanan sepi yang
sedari tadi ku telusuri semakin membuat suasana hatiku tidak karuan lagi,
ditambah derasnya ribuan butir hujan yang menetes, membuat keadaanku tambah
perih.
Langkah kakiku
terhenti, mata hijau safirku tertuju pada jam tangan berwarna merah-hitam yang
tergeletak di tepi jalan itu, basah dan
kotor, itulah keadaannya. Meskipun masih berbalut pita lucu diatasnya, namun,
jam itu seakan tak diperlukan lagi oleh pemiliknya. Butiran air bening keluar
dari kedua mataku, menetes bersamaan dengan jatuhnya hujan…
BUK !!...
payung kecilku terjatuh seketika dari ganggaman tanganku yang melemah karena
rasa getir dan dingin. Sekarang, aku yang duduk bersimpuh , diatas genangan air
yang semakin meluas, dengan kepalaku yang semakin tertunduk kesal.
Pelan-pelan,
kuambil jam itu, mengusapnya, kemudian
memegangnya seerat mungkin, meski ku tau tangan lemahku ini tak dapat
menggenggamnya dalam keadaan seperti itu.Kubenamkan benda itu kedalam jaket
coklat yang mulai basah diterpa hujan. Mencoba membuatku tenggelam dalam kesedihan
yang semakin larut.
“Kenapa harus
dia?” tanyaku getir, entah kepada siapa?. Disana hanya ada aku, jam tangan ini,
juga hujan dan payung kecilku yang tak berdaya lagi.
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~~~~~
“Ha ha ha…..”
Kudengar suara
mereka dari kejauhan, senang rasanya dapat melihat mereka tertawa lepas seperti
itu. Aku memang senang sekali jika semua orang bahagia. Menurutku kesenangan
mereka adalah kebahagian tersendiri bagiku.
Ku perhatikan
dengan jelas wajah mereka satu persatu,
mata beningku tertuju pada salah seorang diantara mereka. Shinno,
satu-satunya orang yang dapat menyita perhatianku, sesibuk apapun aku. Dan dia
juga satu-satunya orang yang berbeda dari yang lain. Dari semua orang yang
kukenal. Dimataku, dia begitu sempurna. Dia adalah anak laki-laki yang paling
manis yang pernah kulihat, tapi bukan itu yang kubanggakan darinya. Kepribadiannya-lah
yang membuat hati ‘batu’ku luluh. Baik, penyabar, lembut, penolong,dan kuat.
Dia-lah Shinno Yamato yang kukenal selama ini.
“Hah?!” ku
alihkan wajahku secepat mungkin, memperhatikan sekelilingku, sesuatu yang
sebenarnya tak perlu ku perhatikan.
Ternyata, dia
menyadarinya, menyadari keberadaanku sejak tadi. Dia terus menatapku dari
kejauhan, mencoba menebak apa yang kulakukan. Keadaan ini membuatku semakin
panik, berharap akan ada seseorang yang datang menolongku, membantu keluar dari
kebingunganku.
“Hana!!”
panggil seseorang seraya menepuk pundakku tiba-tiba.
“Kyukho?”
jawabku sambil tersenyum dengan sahabatku ini.
Syukurlah…..,pikirku
sejenak, akhirnya ada juga orang yang menyelamatkanku…
“Apa yang kamu
lakukan?” tanyanya seketika, kemudian ikut duduk bersamaku, dibangku taman
sekolah yang sejak tadi ku duduki.
“Tidak ada
apa-apa…” jawabku tenang dan kembali tersenyum.
“Begitu ya?
Bukannya…”
“Benar ! tidak
ada apa-apa!!...” aku mulai panik dengan perkiraannya.
“Agh,
sebaiknya kau terus terang saja, lagi pula, aku kan sudah tau…”
“Kalau kau
tidak ingin perasaanmu terhenti sampai disini, lebih baik, kau katakan saja
padanya… perpisahan sekolah kan,sebentar lagi …” lanjutnya kemudian.
“Tapi…”
kekecewaan mulai nampak diwajahku.
“Sudahlah, aku
yakin kamu pasti bisa !!” potongnya,menyemangatiku.
Kyukho pun
pergi meninggalkanku sendirian., membuatku merenungkan perkataannya barusan.
Hmm, dia benar
juga…, pikirku lagi
Ku tatap lagi
halaman sekolah itu, halaman besar yang benar-benar rapi keadaannya. Halaman
SMA tempatku bersekolah, SMA HOSHIZORA.
~~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~~
“Deng !!….”
Jari-jari
tanganku sedang asyik memainkan sebuah piano klasik di ruangan itu. Sementara
yang lain duduk manis ditempatnya masing-masing.
Prok, prok,
prok !!
Semua orang
menepukkan tangannya, ketika ku akhiri laguku dengan not yang terakhir.
Sekarang aku sudah dapat tersenyum
lebar. Awalnya, kukira mereka tidak menyukai lagu yang kubawakan. Ternyata,
tidak !, mereka malah memberikan ucapan selamat padaku.
“Syukurlah…”
kataku sambil menghela nafas panjang.
Ku langkahkan kakiku yang berbalut sepatu
berjenis slope-boot coklat gelap yang
ku beli kemarin, khusus untuk acara ini.
Dengan mini-dress
merah yang tertutup separuhnya oleh jaket kulit berwarna senada dengan
sepatuku. Penampilanku saat itu sangat berbeda dari biasanya, yang mereka
bilang… terkesan ‘tomboy’.
Aku kembali duduk di bangkuku semula. Disebuah
ruangan besar yang khusus disewa untuk acara itu. Sesekali, ku rapikan rambut
merahku yang terurai sebahu, begitu juga dengan poni manis yang menutupi
keningku, ditambah dengan jepit rambut kecil diatas kedua telingaku.
“Kau hebat !!”
“Eh?” aku terkejut ketika menyadari sudah ada
orang yang duduk disampingku.
Dan lebih terkejut lagi, ketika tau kalau
ternyata orang itu…
“Shinno??” tanyaku bingung.
“Penampilanmu itu….. hebat sekali !!” katanya
sambil tersenyum.
Aku hanya terdiam, bingung. Aku juga hampir
tidak mendengar apa yang dia katakan. Selama ini, aku terlalu takut menatapnya,
bahkan menyapanya, apalagi jika harus berbicara dengannya. Tapi, kali ini ku
beranikan berbicara dengannya.
“Sankyu…” ucapku pelan.
Dia kembali tersenyum manis, dan pergi begitu
saja.
Baka ! baka ! baka !!... hatiku berontak.
Bukankah itu kesempatanku untuk mengatakan itu
padanya ?? Kenapa aku malah membiarkan dia pergi ?? Ada apa denganku ?? Sebegitu
takutnya kah, aku ??
~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~*~~~~~~~~*~~~~~~~~~~*~~~~~~
Sekali lagi, kulihat jam tangan itu. Semua
perasaan kucurahkan pada benda itu.
“Kenapa ?” tanyaku lagi,lagi dan lagi
Teringat olehku kejadian beberapa jam lalu…
***
“Shinno !” panggilku.
Dia menatapku, pertanyaan terlihat dimata
hitamnya yang jernih
“Ini !” kuserahkan sebuah jam tangan dengan warna
yang sesuai dengan kesukaannya, merah.
“Emm, ini…..?”
Belum selesai dia mengatakannya, dengan cepat
ku raih tangannya dan meletakkan jam itu tepat diatasnya.
“Untukmu…” jawabku kemudian.
“Shinno … Ada yang ingin ku katakan padamu…”
Kata-kataku itu membuatnya semakin bingung.
“Sebenarnya… Sejak pertama aku mengenalmu, aku
sudah menyukaimu…” jelasku tanpa ragu.
Padahal, aku tau kalau jawabannya pasti…
‘TIDAK’ !!.
Kulihat jelas, betapa kebingungan tampak
diwajahnya.
“Hana…”
Sekali lagi, belum sempat dia mengatakannya,
aku sudah memotong kata-katanya. Aku terlalu takut mendengar kekecewaan yang
telak dalam hatiku.
“Aku tidak mau kau menjawabnya, aku cuma ingin
menyampaikan ini padamu. Aku tidak mau terus menerus memendamnya seperti ini,
dan ini mungkin adalah saat yang tepat, karena bisa jadi kita tak akan bertemu
lagi…”
Aku segera pergi meninggalkannya. Sebenarnya,
kaki ini terasa berat menjauh dari tempat itu. Ku hentikan langkahku sejenak,
aku ingin melihatnya lagi untuk yang terakhir kali, tapi ku urungakn
keinginanku. Ini sudah berakhir !, ku tatap langit yang mulai gelap karena awannya yang tengah penuh dengan air. Ku
langkahkan kembali kakiku lebih cepat, aku tidak mau lama-lama tenggelam dalam
kesedihan, dan meneteskan air mata kehilangan.
Tiba-tiba, hujan pun jatuh, mengguyur sedikit
demi sedikit, sementara anak laki-laki itu masih saja terdiam di tengah jalan
sepi itu.
“Shinno !! Cepat !!! Apa yang kau lakukan
disini ??”
“Eh?”
Anak laki-laki itu pun segera beranjak pergi,
berlari bersama temannya itu. Sementara aku yang sejak tadi bersembunyi dibalik
gedung pertokoan yang tak jauh dari tempatnya berdiri, masih saja terdiam ditempatku.
Secepat Shinno berlalu, seketika itu pula terasa perih dan kecewa dalam
diriku. Bukan karena dia pergi, atau karena kutinggalkan dia sendiri.
~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
Sempat sesekali ku mengumpat, menyumpahi diri
sendiri, seakan-akan semua masalah adalah salahku.
“BAKA YAROU !!!” teriakku keras.
“Tidak seharusnya aku menyukainya, aku tidak
pantas dengannya !! Aku hanya ‘gadis tomboy’ yang tidak pantas
dicintai !!!” makiku keras seraya memukulkan kepalan tanganku ke tanah tergenang
itu. Seakan tidak perduli lagi dengan rasa sakit yang kurasakan , aku terus memukulkannya,
menambahkan luka yang semakin sobek.
Saat ingin memukulkan pukulan terakhirku, ada
tangan menahannya, menahan ayunan kencang dari tanganku.
“Hentikan !!” tegurnya menyadarkanku.
“Shi, Shinno ?? Apa yang…” seketika itu juga
aku terkejut dengan kehadiran orang itu.
Diambilnya selembar sapu tangan dari saku
celananya. Segera dibalutkannya kain itu ketanganku yang penuh darah dan
tersapu hujan lebat. Kemudian ditariknya tanganku, mencoba membuatku berdiri
lagi.
“Kenapa… kau kesini ??” tanyaku sambil
memalingkan wajahku darinya, terlihat jelas kekesalan dimataku yang membengkak.
“Ada milikku yang tertinggal…” jawabnya santai.
Matanya mengarah pada benda yang ku pegang.
Tangannya meraih benda itu, dan memakainya setelah mengusapnya dengan bajunya
yang setengah basah
“Jam itu, kupikir…”Kata-kataku terhenti, saat
dia mulai memegang kedua bahuku.
“Arigatou…” ucapnya pelan. Mataku menatapnya
dalam.
“Kenapa ? Dan… untuk apa kau…?”
Aku tak bisa melanjutkan perkataanku lagi, aku
terlalu gugup berhadapan dengannya. Sementara dia, terus menatapku dalam dan
lebih dalam lagi. Aku tak sanggup lagi melihatnya, semakin aku menatapnya,
semakin dalam perasaanku padanya, dan semakin takut pula melepaskannya.
Seketika itu juga, ku pejamkan mataku, karena ketakutan yang kuhadapi. Semakin
lama ku menutup mataku, semakin tenang pula perasaanku.
Perasaan apa ini ? Kenapa tiba-tiba saja, aku
merasa senyaman ini ? Bukankah, tadi ku merasa takut ? Kenapa aku merasa hangat
? Padahal aku tengah berada dalam hujan lebat??
Karena banyak pertanyaan yang perputar
dikepalaku, perlahan ku buka mataku, betapa terkejutnya aku, seketika itu juga,
ku galakkan mataku, berusaha melihat jelas bahwa ini bukan mimpi ! . Ternyata
benar, apa yang kulihat. Sekarang, pria itu memelukku, berusaha membuatku
merasa hangat.
Tak lama kemudian, dia melepaskan pelukkannya.
“Naze ?”tanyaku, dengan semua kebingunganku
memohon jawaban padanya.
“Aishiteru mo…” jawabnya singkat, sambil
memegang kedua tanganku.
Aku benar-benar tidak mengira dia akan
mengatakan itu padaku. Saat itu, aku merasa sangat senang, bahkan tanpa sadar,
air mataku kembali menetes. Tapi kali ini, berbeda dari sebelumnya.
“Shi, Shinno…”
Ku peluk erat laki-laki berambut biru itu,
seerat mungkin, seakan tak mau melepasnya, begitu juga dengannya.
Shinno-chan, anata wa atashi
no dai ichi to ushiro mottomo ai desu…
…Atashi no kokoro wo itte…
***THE END***
